PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
PEMIMPIN DAN PERBAIKAN PERUSAHAAN
Apa saja hal-hal yang harus dilakukan seorang pemimpin untuk
memperbaiki perusahaan ? sesungguhnya perbaikan yang paling utama yang harus
dilakukan seorang pemimpin adalah perbaikan internal. Perbaikan internal inilah
yang tidak banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pada umumnya. Mereka
justru lebih menekankan pada target,target,dan target. Sebuah perusahaan memang
harus memiliki target. Akan tetapi, hal yang harus diperhatikan juga adalah
bagaimana proses untuk mencapai target itu. Proses pencapaian target itulah
yang harus dihayati oleh perusahaan. Apalah arti sebuah perusahaan yang
berhasil melampaui target,namun ternyata karyawannya melakukannya dengan
terpaksa dan tidak dilandasi cinta. Kondisi seperti ini mungkin hanya akan
mampu bertahan selama dua tahun. Setelah itu para karyawan akan mencari
perusahaan lain sebagai tempat mereka dapat mengaktualisasikan diri, dapat
bermusyawarah, dapat memberikan pendapat, dapat memberikan saran dsb. Jadi, hal
yang paling penting selain unsur-unsur yang bersipat mekanistis adalah
unsur-unsur yang bersifat ruhiyah bersifat hati dan spiritual.
Jika unsur-unsur yang bersifat ruhiyah,hati dan spiritual
itu telah tercipta dalam diri para karyawan, maka akan terjadi peningkatan
kualitas sumber daya manusia perusahaan. Artinya, pengembangan diri karyawan
dapat diimplementasikan dengan baik di samping faktor-faktor keterampilan.
Pengembangan diri hanya akan terjadi jika hati para karyawan
memang siap untuk dikembangkan. Jika hati mereka tidak siap untuk dikembangkan
akibat hilangnya motivasi, tidak adanya penghargaan kepada pekerja, dan tidak
adanya koreksi terhadap kesalahan yang dilakukan, maka program pengembangan
diri tidak akan berjalan dengan baik. Sebaliknya jika hati para karyawan siap
di kembangkan, meskipun diberikan sentuhan-sentuhan sedikit saja maka mereka
akan melakukan pembinaan diri secara intensif. Artinya, para karyawan tidak
lagi merasa terpaksa dengan pengembangan diri dan hati. Dalam kegiatan ekonomi,
hati harus diberi porsi yang utama.
Adapun dalam sebuah hadist Nabi Muhammad yang mengatakan
bahwa “Ingatlah bahwa diri kita ada segumpal darah yang kalau beres, bereslah
perilaku, kalau rusak, maka rusaklah perilaku itu. Itulah yang dikatakan hati.”
(HR Bukhari dan muslim).
PENGEMBANGAN DIRI DARI HATI
Proses pengembangan diri dari hati adalah pengembangan atau
pembinaan yang di mulai dengan pembinaan hati. Proses pengembangan dari hati
dapat dilakukan dengan beberapa cara.
Pertama, dengan Silah Qawiyyah billah yaitu menjaga hubungan
yang kuat dengan Allah SWT. Salah satu caranya adalahmelalui ibadah-ibadah
nafilah, dengan memperbanyak shalat malam, shaum sunah, membaca Al-Quran,dan
muhasabah (intropeksi diri). Jadi, hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Jika
silah qawiyyah ini telah dilakukan secara konsisten dan teratur, maka harus
terjabarkan dalam hubungan yang baik antar-individu orang-orang beriman.
Kedua, melaksanakan atau memperhatikan hak-hak sesama
muslim. Dalam hadist dikatakan, sesama muslim jika bertemu mengucapkan salam,
jika diundang memenuhinya, jika sakit menjenguk, jika meninggal dunia
diantarkan ke kuburannya, dsb.
Ketiga, ta’aawun (tolong-menolong). Ta’aawun ini sangat
diperintahkan oleh ajaran Islam. Sikap dan perbuatan tolong-menolong ini akan
memperkuat ikatan. Ta’aawun dapat diimplementasikan dalam bentuk menolong
tetangga yang kesulitan, ikut mencarikan jalan keluar bagi saudara yang
kebingungan, ikut meringankan beban ekonomi dengan memberikan bantuan materi,
menolong sesama di kala sakit, atau hal-hal lain yang sangat banyak dan biasa
terjadi dalam hidup bermasyarakat.
PROSES DALAM PANDANGAN ISLAM
Seorang pemimpin selalu terpaku pada hasil atau output suatu
pekerjaan dan melupakan proses pencapaiannya. Nah , bagaimana Islam memandang
sebuah proses ?
Islam adalah ajaran yang mendorong umatnya untuk memandang
sesuatu bukan semata-mata pada hasilnya, tetapi juga pada proses dan amaliah
yang dilakukannya.
Akhir-akhir ini sering terlihat dalam realitas kehidupan,
betapa banyak orang yang memandang sesuatu semata-mata dari hasilnya dan
melupakan serta mengabaikan proses yang seharusnya dilakukan untuk mencapainya.
Fenomena seperti itu harus segera dihentikan bersama-sama
karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam, sebagai ajaran yang
mengutamakan proses,kerja, dan amal,bukan semata-mata pada hasilnya. Allah SWT
berfirman dalam surat At-Taubah: 105
“dan katakanlah,’bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya
serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(at-Taubah:105)
SYARAT KEPEMIMPINAN
Syekh Muhammad al-Mubarak menyatakan ada empat syarat
seorang untuk menjadi pemimpin.
Pertama, memiliki akidah yang benar (aqidah salimah)
Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas.
Ketiga,memiliki akhlak yang mulia
Keempat,memiliki kecakapan manajerial, memahami ilmu-ilmu
administrasi dan manajemen dalam mengatur urusan-urusan duniawi.
Al-Quran surah al-maaidah:57 menegaskan bahwa kaum muslimin
yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasullulah SAW,
dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan
urusan-urusan agama atau seseorang yang menjadikan agama sebagai bahan
permainan kerena pertanggung jawaban atas pengangkatan seorang pemimpin akan
dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya. Jadi masalah kepemimpinanbukan
saja berkaitan dengan pribadi orang yang diangkat menjadi pemimpin, melainkan
juga berkaitan dengan keimanan orang-orang yang mengangkatnya.

0 komentar:
Posting Komentar