Kamis, 31 Juli 2014

PEMIMPIN DAN PERBAIKAN PERUSAHAAN



 PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
PEMIMPIN DAN PERBAIKAN PERUSAHAAN


Apa saja hal-hal yang harus dilakukan seorang pemimpin untuk memperbaiki perusahaan ? sesungguhnya perbaikan yang paling utama yang harus dilakukan seorang pemimpin adalah perbaikan internal. Perbaikan internal inilah yang tidak banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pada umumnya. Mereka justru lebih menekankan pada target,target,dan target. Sebuah perusahaan memang harus memiliki target. Akan tetapi, hal yang harus diperhatikan juga adalah bagaimana proses untuk mencapai target itu. Proses pencapaian target itulah yang harus dihayati oleh perusahaan. Apalah arti sebuah perusahaan yang berhasil melampaui target,namun ternyata karyawannya melakukannya dengan terpaksa dan tidak dilandasi cinta. Kondisi seperti ini mungkin hanya akan mampu bertahan selama dua tahun. Setelah itu para karyawan akan mencari perusahaan lain sebagai tempat mereka dapat mengaktualisasikan diri, dapat bermusyawarah, dapat memberikan pendapat, dapat memberikan saran dsb. Jadi, hal yang paling penting selain unsur-unsur yang bersipat mekanistis adalah unsur-unsur yang bersifat ruhiyah bersifat hati dan spiritual.

Jika unsur-unsur yang bersifat ruhiyah,hati dan spiritual itu telah tercipta dalam diri para karyawan, maka akan terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia perusahaan. Artinya, pengembangan diri karyawan dapat diimplementasikan dengan baik di samping faktor-faktor keterampilan.
Pengembangan diri hanya akan terjadi jika hati para karyawan memang siap untuk dikembangkan. Jika hati mereka tidak siap untuk dikembangkan akibat hilangnya motivasi, tidak adanya penghargaan kepada pekerja, dan tidak adanya koreksi terhadap kesalahan yang dilakukan, maka program pengembangan diri tidak akan berjalan dengan baik. Sebaliknya jika hati para karyawan siap di kembangkan, meskipun diberikan sentuhan-sentuhan sedikit saja maka mereka akan melakukan pembinaan diri secara intensif. Artinya, para karyawan tidak lagi merasa terpaksa dengan pengembangan diri dan hati. Dalam kegiatan ekonomi, hati harus diberi porsi yang utama.

Adapun dalam sebuah hadist Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa “Ingatlah bahwa diri kita ada segumpal darah yang kalau beres, bereslah perilaku, kalau rusak, maka rusaklah perilaku itu. Itulah yang dikatakan hati.” (HR Bukhari dan muslim).

PENGEMBANGAN DIRI DARI HATI

Proses pengembangan diri dari hati adalah pengembangan atau pembinaan yang di mulai dengan pembinaan hati. Proses pengembangan dari hati dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Pertama, dengan Silah Qawiyyah billah yaitu menjaga hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Salah satu caranya adalahmelalui ibadah-ibadah nafilah, dengan memperbanyak shalat malam, shaum sunah, membaca Al-Quran,dan muhasabah (intropeksi diri). Jadi, hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Jika silah qawiyyah ini telah dilakukan secara konsisten dan teratur, maka harus terjabarkan dalam hubungan yang baik antar-individu orang-orang beriman.

Kedua, melaksanakan atau memperhatikan hak-hak sesama muslim. Dalam hadist dikatakan, sesama muslim jika bertemu mengucapkan salam, jika diundang memenuhinya, jika sakit menjenguk, jika meninggal dunia diantarkan ke kuburannya, dsb.

Ketiga, ta’aawun (tolong-menolong). Ta’aawun ini sangat diperintahkan oleh ajaran Islam. Sikap dan perbuatan tolong-menolong ini akan memperkuat ikatan. Ta’aawun dapat diimplementasikan dalam bentuk menolong tetangga yang kesulitan, ikut mencarikan jalan keluar bagi saudara yang kebingungan, ikut meringankan beban ekonomi dengan memberikan bantuan materi, menolong sesama di kala sakit, atau hal-hal lain yang sangat banyak dan biasa terjadi dalam hidup bermasyarakat.

PROSES DALAM PANDANGAN ISLAM

Seorang pemimpin selalu terpaku pada hasil atau output suatu pekerjaan dan melupakan proses pencapaiannya. Nah , bagaimana Islam memandang sebuah proses ?
Islam adalah ajaran yang mendorong umatnya untuk memandang sesuatu bukan semata-mata pada hasilnya, tetapi juga pada proses dan amaliah yang dilakukannya.
Akhir-akhir ini sering terlihat dalam realitas kehidupan, betapa banyak orang yang memandang sesuatu semata-mata dari hasilnya dan melupakan serta mengabaikan proses yang seharusnya dilakukan untuk mencapainya.
Fenomena seperti itu harus segera dihentikan bersama-sama karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam, sebagai ajaran yang mengutamakan proses,kerja, dan amal,bukan semata-mata pada hasilnya. Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah: 105



“dan katakanlah,’bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(at-Taubah:105)







SYARAT KEPEMIMPINAN

Syekh Muhammad al-Mubarak menyatakan ada empat syarat seorang untuk menjadi pemimpin.

Pertama, memiliki akidah yang benar (aqidah salimah)
Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas.
Ketiga,memiliki akhlak yang mulia
Keempat,memiliki kecakapan manajerial, memahami ilmu-ilmu administrasi dan manajemen dalam mengatur urusan-urusan duniawi.

Al-Quran surah al-maaidah:57 menegaskan bahwa kaum muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasullulah SAW, dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama atau seseorang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan kerena pertanggung jawaban atas pengangkatan seorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya. Jadi masalah kepemimpinanbukan saja berkaitan dengan pribadi orang yang diangkat menjadi pemimpin, melainkan juga berkaitan dengan keimanan orang-orang yang mengangkatnya.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar