Tanggal 12 November 2014, yang lalu adalah Hari Ayah. Saya jarang sekali mengucapkan kalimat "I love you, ayah !". Kalimat itu sering tidak bisa keluar langsung dari mulut saya.
Walaupun bibir tak pernah berucap, sebagai anak perempuan satu-satunya
yang selalu engkau jaga, saya bangga memiliki ayah sepertimu.
Saya menjadi pribadi seperti ini karena ayah. Kelak saat saya memiliki
suami, saya ingin ada salah satu sifat baik yang sama dengan ayah.
Entah itu bijaksanamu, entah itu humorismu, entah itu penyayangmu, entah
itu penjagaanmu terhadapku, semua hal yang baik darimu ingin sekali
saya dapatkan dalam sosok suami kelak.
Sebagai anak terakhir, bisa dibilang saya adalah anak yang paling
bandel, anak yang paling menyusahkanmu bahkan sampai detik ini
Ayah selalu menjadi pria yang paling khawatir ketika saya
kenapa-kenapa. Sampai saya sebesar ini. Terima kasih juga karena ayah telah
mendampingi wanita yang telah menjadi malaikat sampai sekarang, yaitu
ibu. Terima kasih telah menjadi “My Hero” dalam hidup saya dan hidup kaka saya. Terima kasih telah menjadi kakek penyayang untuk Galuh dan Ghifari. Terima kasih, ayah.
Rambutmu yang sudah beruban, perutmu yang makin buncit, tanganmu yang
keriput, dan tenagamu yang berangsur lemah adalah tanda bahwa Ayah
telah memerangi kehidupan yang sangat panjang. Walau sangat berat, ayah
tidak pernah mengeluh sampai hari ini. Tangan keriputmu dan sisa tenaga ayah masih dipergunakan dengan baik untuk selalu membuat kami bangga.
Ayah, jaga kesehatan ya.. Tunggu sampai anak perempuanmu ini berdiri di
pelaminan bersama pria pilihan, yang sebaik dirimu. Tunggu sampai aku
memiliki bayi mungil, tunggu sampai anakku besar, tunggu aku sampai kau
merasa mampu. :')




0 komentar:
Posting Komentar